Multifinance

Bitcoin Anjlok di Bawah USD64 Ribu Setelah Serangan AS-Israel ke Iran!

Popy Lestary
×

Bitcoin Anjlok di Bawah USD64 Ribu Setelah Serangan AS-Israel ke Iran!

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Anjlok di Bawah USD64 Ribu Setelah Serangan AS-Israel ke Iran!

sempat terperosok di bawah USD64 ribu seusai munculnya kabar serangan militer yang dilancarkan dan Israel terhadap Iran. Peristiwa ini memicu gejolak di global, termasuk pasar kripto yang langsung merasakan dampaknya.

yang semula melirik Bitcoin sebagai alternatif aset aman kini mulai mundur. Dinamika harga Bitcoin justru bergerak terbalik dari emas, yang biasanya dianggap sebagai terakhir di tengah ketidakpastian geopolitik. Sementara emas terus menunjukkan performa positif, Bitcoin malah terpuruk, bahkan sudah turun lebih dari 50 persen dari puncaknya di USD125 ribu pada Oktober 2025.

Dampak Serangan AS-Israel ke Iran terhadap Pasar Kripto

Serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel ke Iran memicu lonjakan ketegangan di Timur Tengah. Pasar global pun langsung bereaksi, termasuk pasar kripto yang notabene sensitif terhadap isu geopolitik.

1. Reaksi Instan Pasar Kripto

Bitcoin langsung terkena imbasnya. Harga turun tajam dan sempat menyentuh level di bawah USD64 ribu. Sentimen negatif ini menyebar ke seluruh ekosistem kripto, bukan hanya pada Bitcoin, tetapi juga besar lainnya seperti Ethereum dan Solana.

Baca Juga:  Raih Keuntungan Maksimal di Tahun 2026 dengan 5 Strategi Jitu Trading Futures Crypto yang Wajib Dicoba!

2. Perbandingan Kinerja Bitcoin dan Emas Pasca-Konflik

Aset Pergerakan Harga Kondisi Pasar
Bitcoin Turun >50% dari puncak Oktober 2025 Tekanan jual tinggi
Emas Naik seiring permintaan safe-haven Permintaan meningkat

3. Risiko Keterlibatan Lebih Luas

Jika Iran membalas serangan, ada potensi lebih banyak negara terlibat. Ini bisa memperpanjang tekanan pada pasar kripto, termasuk Bitcoin, karena investor cenderung menjauh dari aset berisiko tinggi.

Penyebab Penurunan Harga Bitcoin

Penurunan harga Bitcoin bukan hanya karena faktor eksternal seperti konflik geopolitik. Ada beberapa alasan lain yang turut memengaruhi tren negatif ini.

1. Sentimen Investor yang Berubah

Dulu, Bitcoin dianggap sebagai “emas digital” dan aset pelarian saat krisis. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa dalam situasi ketegangan seperti ini, investor lebih memilih emas fisik daripada aset digital.

2. Keterbatasan Likuiditas Akhir Pekan

Pasar kripto cenderung lebih rentan terhadap volatilitas tinggi saat akhir pekan karena yang lebih rendah. Ini membuat gerakan harga lebih ekstrem dan tidak stabil.

3. Keterkaitan dengan Saham Teknologi

Bitcoin juga terpengaruh oleh performa saham AS. Jika investor mulai menjual saham teknologi, biasanya mereka juga menjual aset kripto sebagai bagian dari portofolio risiko tinggi.

Level Support yang Perlu Diwaspadai

Dalam kondisi seperti ini, penting memperhatikan level-level teknis yang bisa menjadi titik balik atau patahan harga.

1. USD60 Ribu sebagai Level Support Kritis

USD60 ribu adalah level di mana harga Bitcoin sebelumnya berhasil memantul usai penurunan besar. Jika level ini tembus, bisa terjadi selling pressure yang lebih besar lagi.

2. Potensi Konsolidasi di Bawah USD64 Ribu

Jika ketegangan di Timur Tengah berlarut, harga Bitcoin bisa terus berada di bawah USD64 ribu dalam beberapa pekan ke depan. Ini akan memicu lebih banyak investor untuk keluar dari posisi.

Baca Juga:  Mungkinkah Industri Kripto Jadi Penyelamat Kesejahteraan Masyarakat di Era Ekonomi Digital?

3. Resistensi di USD70 Ribu

Sebaliknya, jika situasi membaik dan ketenangan kembali, level resistensi di sekitar USD70 ribu bisa menjadi target selanjutnya bagi para pembeli.

Perbandingan Aset Safe Haven: Bitcoin vs Emas

Parameter Bitcoin Emas
Likuiditas Tinggi saat weekday Tinggi sepanjang waktu
Stabilitas Volatil Relatif stabil
Persepsi Investor Aset risiko tinggi Aset aman
Respons terhadap Krisis Negatif terkini Positif

Apa Kata Investor Sekarang?

Banyak investor mulai mempertanyakan kembali peran Bitcoin sebagai aset safe haven. Sejumlah analis menyebut bahwa Bitcoin lebih cocok dianggap sebagai aset spekulatif jangka pendek, bukan instrumen perlindungan jangka panjang.

Namun, tetap ada investor yang optimis. Mereka melihat koreksi harga sebagai peluang akumulasi. Terutama di kalangan investor jangka panjang yang percaya bahwa Bitcoin akan kembali naik seiring adopsi institusional yang terus berkembang.

Proyeksi Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, harga Bitcoin masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Jika tidak ada eskalasi lebih lanjut, harga bisa mulai pulih dalam waktu satu hingga dua minggu. Namun, jika ketegangan semakin memanas, potensi penurunan bisa menyentuh level USD55 ribu.

Disclaimer

Harga aset kripto sangat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Data dalam artikel ini bersifat informasional dan dapat berbeda dengan kondisi pasar aktual. Investasi dalam aset kripto mengandung risiko tinggi, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh .