Kontrak berjangka Wall Street terperosok tajam pada malam Minggu, 1 Maret 2026. Penurunan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berujung pada serangan militer dan dampaknya terhadap pasar global. Investor langsung panik, memicu aliran dana keluar dari aset berisiko menuju instrumen yang lebih aman.
Situasi semakin memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran akhir pekan lalu. Serangan ini dilaporkan menewaskan ratusan orang, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, tokoh tertinggi Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap Israel dan sejumlah negara di kawasan, seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Dampak Serangan ke Pasar Finansial Global
Serangan tersebut memicu gejolak besar di pasar modal. Investor langsung menghindari risiko dan beralih ke aset safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah. Saham-saham berisiko tinggi, terutama dari sektor teknologi, langsung terkena imbasnya.
1. Kontrak Berjangka Wall Street Anjlok
Setelah sesi perdagangan Jumat yang sudah merah, kontrak berjangka Wall Street kembali terperosok pada malam Minggu. Berikut rinciannya:
| Indeks | Perubahan (%) | Level Kontrak |
|---|---|---|
| S&P 500 Futures | -1,1% | 6.815,75 |
| Nasdaq 100 Futures | -1,0% | 24.737,50 |
| Dow Jones Futures | -1,1% | 48.447,0 |
2. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Akibat ketegangan di Selat Hormuz—salah satu jalur pengiriman minyak terpadat di dunia—harga minyak langsung melonjak. Pasar memperkirakan pasokan global akan terganggu, terutama jika konflik berlangsung lama.
Faktor Tambahan yang Memperburuk Sentimen Pasar
Selain konflik geopolitik, ada sejumlah faktor lain yang turut menekan pasar saham AS. Kekhawatiran terhadap dampak AI dan ketidakpastian suku bunga menjadi pemicu tambahan bagi investor untuk mundur dari pasar.
3. Kekhawatiran Terhadap AI dan Inflasi
Bulan Februari 2026 menjadi bulan yang sulit bagi Wall Street. Saham teknologi, yang selama ini menjadi pendorong utama penguatan pasar, justru menjadi yang paling terpukul. Nasdaq Composite anjlok lebih dari 3%, sementara S&P 500 turun 0,9%. Dow Jones sendiri relatif datar.
Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap tenaga kerja dan struktur bisnis perusahaan besar. Banyak investor mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar untuk teknologi AI akan sebanding dengan hasilnya.
4. Data Inflasi dan Suku Bunga
Data inflasi yang tetap tinggi meski ada tanda-tanda perlambatan ekonomi membuat investor was-was. Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga pada level tinggi lebih lama dari yang diharapkan. Ini berdampak langsung pada valuasi saham, terutama yang bergantung pada pertumbuhan jangka panjang.
5. Kebijakan Tarif Trump yang Tak Pasti
Ketidakpastian juga datang dari arah dalam negeri. Setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar kebijakan tarif Trump, pasar mulai memperhitungkan dampaknya terhadap rantai pasok dan daya beli konsumen. Investor khawatir ini akan memicu perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
Respons Pemerintah dan Pasar
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut sampai "semua tujuan tercapai." Ia juga memperingatkan akan adanya korban tambahan di pihak AS. Pernyataan ini semakin memperburuk suasana dan menambah volatilitas pasar.
6. Reaksi Pasar Saham Teknologi
Sektor teknologi menjadi korban terbesar dari kombinasi faktor ini. Saham-saham seperti Apple, Microsoft, dan Nvidia mengalami tekanan jual besar-besaran. Investor mulai mempertimbangkan kembali eksposur mereka terhadap saham-saham yang selama ini dianggap sebagai "andalan" pertumbuhan.
7. Pergerakan Obligasi dan Emas
Di sisi lain, obligasi pemerintah dan emas mencatatkan penguatan. Yield obligasi turun tajam, menunjukkan bahwa investor lebih memilih instrumen berisiko rendah. Emas, sebagai aset lindung nilai, juga melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Apa Selanjutnya?
Dengan situasi geopolitik yang masih panas dan faktor domestik yang belum jelas, pasar diperkirakan akan tetap volatile dalam beberapa pekan ke depan. Investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak terjebak emosi dalam pengambilan keputusan.
Perlu dicatat bahwa data dan situasi yang disajikan bersifat dinamis. Perkembangan konflik, kebijakan moneter, dan data ekonomi makro bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Informasi ini disusun berdasarkan data hingga 2 Maret 2026.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












