Kemajuan teknologi digital membuat kehidupan generasi muda semakin lekat dengan kemudahan instan, termasuk dalam urusan belanja. Berbagai kebutuhan mulai dari makanan, pakaian, hingga barang elektronik kini bisa dipenuhi hanya lewat gawai, bahkan aktivitas berutang pun ikut bertransformasi menjadi lebih praktis.
Nah, di sinilah fitur paylater mengambil peran besar. Konsep “beli sekarang, bayar nanti” dinilai sangat cocok dengan gaya hidup serba cepat yang dianut banyak anak muda saat ini.
Jadi, tak heran kalau fitur ini menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan harian maupun keinginan jangka pendek. Pertanyaannya, faktor apa saja yang sebenarnya membuat generasi muda begitu gemar menggunakan paylater, dan apakah kebiasaan ini benar-benar menguntungkan?
Alasan Anak Muda Gemar Menggunakan Paylater
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Ada beberapa faktor mendasar yang mendorong tingginya penggunaan paylater di kalangan generasi muda.
Proses Cepat dan Serba Instan
Paylater menawarkan kemudahan pendaftaran yang relatif singkat. Umumnya, pengguna hanya perlu mengunggah KTP dan menunggu proses verifikasi dalam hitungan menit.
Setelah disetujui, layanan ini bisa langsung digunakan tanpa perlu menunggu saldo tersedia di rekening. Kecepatan inilah yang membedakannya dari proses pengajuan kartu kredit konvensional yang membutuhkan waktu berhari-hari.
Dorongan Gaya Hidup dan FOMO
Faktor gaya hidup turut berperan besar dalam popularitas paylater. Banyak anak muda memanfaatkan fitur ini untuk membeli barang fashion, gadget terbaru, hingga tiket konser yang sedang viral.
Nah, fenomena FOMO atau fear of missing out menjadi pemicu utama di balik perilaku konsumtif tersebut. Ketika teman-teman di media sosial memamerkan barang baru atau pengalaman tertentu, tekanan untuk ikut-ikutan menjadi sulit dibendung.
Minimnya Literasi Keuangan
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan dari OJK, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia memang masih belum merata, terutama di kelompok usia muda. Banyak pengguna paylater yang belum sepenuhnya memahami konsekuensi bunga, denda keterlambatan, serta dampaknya terhadap skor kredit.
Kondisi ini membuat sebagian anak muda memandang paylater sebagai “uang gratis” tanpa memperhitungkan beban pembayaran di kemudian hari. Padahal, gagal bayar paylater bisa tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan memengaruhi riwayat kredit jangka panjang.
Risiko yang Sering Diabaikan
Ada anggapan bahwa paylater aman selama pembayaran dilakukan tepat waktu. Pernyataan ini memang benar secara teknis, tapi kenyataannya banyak pengguna muda yang justru terjebak dalam siklus utang karena tidak disiplin mengatur jadwal pembayaran.
Beberapa risiko yang perlu diwaspadai:
- Bunga dan denda yang bisa menumpuk jika telat bayar, bahkan melebihi harga barang yang dibeli
- Dampak pada skor kredit, yang berpengaruh saat mengajukan KPR atau pinjaman produktif di masa depan
- Kebiasaan konsumtif yang terbentuk tanpa disadari karena kemudahan akses belanja
Jadi, fitur paylater sejatinya bukan musuh. Yang perlu dikoreksi adalah cara penggunaannya.
Cara Bijak Menggunakan Paylater
Bukan berarti paylater harus dihindari sepenuhnya. Fitur ini tetap bisa menjadi alat keuangan yang berguna jika dikelola dengan tepat.
- Gunakan hanya untuk kebutuhan mendesak, bukan keinginan sesaat yang dipicu tren media sosial
- Tetapkan batas penggunaan bulanan agar cicilan tidak melebihi 20 persen dari pendapatan
- Bayar tepat waktu atau lebih awal untuk menghindari bunga dan denda
- Pantau riwayat transaksi secara rutin agar tetap sadar terhadap total utang yang berjalan
- Tingkatkan literasi keuangan melalui sumber terpercaya seperti situs resmi OJK
Langkah-langkah ini sederhana, tapi dampaknya signifikan dalam menjaga kesehatan finansial jangka panjang.
Paylater adalah produk keuangan yang netral. Manfaat atau mudarat yang dihasilkan sepenuhnya bergantung pada kedewasaan finansial penggunanya.
Generasi muda punya potensi besar untuk memanfaatkan teknologi secara cerdas, termasuk dalam urusan keuangan. Kuncinya ada pada kesadaran bahwa kemudahan bukan berarti tanpa tanggung jawab.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












