Multifinance

Gejolak Tarif Trump Picu Penurunan Kontrak Berjangka Saham AS!

Nurkasmini Nikmawati
×

Gejolak Tarif Trump Picu Penurunan Kontrak Berjangka Saham AS!

Sebarkan artikel ini
Gejolak Tarif Trump Picu Penurunan Kontrak Berjangka Saham AS!

Indeks saham berjangka kembali melemah pada Minggu malam, 22 Februari 2026. Penurunan ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor secara global. Langkah ini diambil berdasarkan undang-undang yang berbeda, menyusul putusan Mahkamah Agung yang menolak pungutan tarif sebelumnya.

Pasarnya pun mulai was-was. langsung merespons dengan penurunan di berbagai indeks utama. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3 persen menjadi 6.902,25 poin. Nasdaq 100 anjlok 0,5 persen ke level 24.945,75. Sementara Dow Jones juga ikut terpuruk, turun hampir 0,3 persen ke 49.547,0 poin.

Gejolak Kebijakan Tarif Trump dan Dampaknya

Situasi ini muncul setelah Mahkamah Agung membatalkan pungutan yang sebelumnya. Meski begitu, alih-alih mundur, Trump justru mengumumkan rencana menaikkan tarif universal dari 10 persen menjadi 15 persen. Ia menggunakan undang-undang yang berbeda, meski belum pernah digunakan oleh presiden mana pun sebelumnya.

Langkah ini menimbulkan ketidakpastian baru di pasar. Banyak negara yang baru saja menandatangani perjanjian perdagangan dengan AS kini mulai mempertimbangkan negosiasi ulang. Mereka ingin kepastian soal bagaimana kebijakan tarif ini akan diterapkan ke depan.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Tembus Rp3 Juta/Gram, Tiket Kereta Lebaran 2026 Masih Bisa Dipesan!

1. Kenaikan Tarif Sementara Jadi 15 Persen

Trump mengumumkan kenaikan tarif sementara menjadi 15 persen dari sebelumnya 10 persen. Ini dilakukan sebagai respons terhadap putusan Mahkamah Agung yang menolak pungutan tarif sebelumnya. Langkah ini diambil dengan alasan perlindungan nasional.

Namun, undang-undang yang digunakan belum pernah diuji secara hukum. Artinya, masih ada ruang untuk sengketa di masa depan. Selain itu, penerapan tarif ini hanya bersifat sementara, maksimal 150 hari, dan membutuhkan persetujuan Kongres untuk diperpanjang.

2. Reaksi Pasar dan Negara Mitra Dagang

Negara-negara mitra dagang AS langsung merespons dengan kekhawatiran. Banyak dari mereka yang baru saja menandatangani perjanjian perdagangan kini mulai mencari kejelasan lebih lanjut. Ada pihak yang bahkan mulai menyiapkan opsi negosiasi ulang.

Investor juga tidak tinggal diam. Ketidakpastian ini membuat mereka lebih hati-hati dalam mengambil keputusan . Saham-saham yang sensitif terhadap perdagangan global langsung terkena imbasnya.

3. Dampak pada Biaya Hidup dan Defisit Dagang

Kebijakan tarif yang terus naik turut mendorong kenaikan biaya hidup. Masyarakat di dalam negeri mulai merasakan dampaknya lewat harga barang impor yang melonjak. Data perdagangan Desember 2025 menunjukkan bahwa tarif ini belum berhasil menutup defisit perdagangan yang besar.

Tabel berikut menunjukkan perbandingan defisit perdagangan sebelum dan sesudah penerapan tarif:

Tahun Defisit Perdagangan (USD Triliun) Kenaikan Tarif (%)
2024 1,2 10
2025 1,4 15 (sementara)

Fokus Baru ke Pendapatan Nvidia

Di tengah gejolak tarif, fokus pasar beralih ke laporan pendapatan Nvidia. Perusahaan teknologi raksasa ini akan merilis data kuartal keempatnya pada 25 Februari 2026. Investor sangat menantikan hasilnya sebagai indikator kesehatan industri .

1. Perkiraan Pendapatan dan Laba

Nvidia diperkirakan akan mencatat laba per saham (EPS) sebesar USD1,52. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu USD0,89. Pendapatannya juga diproyeksikan mencapai USD65,56 miliar, naik dari USD39,33 miliar tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Rupiah Anjlok 0,14% Jelang Akhir Pekan, Sentuh Level Rp16.783!

2. Peran Nvidia dalam Ekosistem AI Global

Sebagai produsen chip AI paling canggih di dunia, kinerja Nvidia menjadi cerminan kondisi industri secara keseluruhan. Bila pendapatan mereka melampaui ekspektasi, bisa jadi ini akan menenangkan pasar yang sedang gelisah.

Namun, sebaliknya, jika hasilnya mengecewakan, bisa memicu penurunan lebih lanjut di sektor teknologi. Terutama saham perusahaan yang bergantung pada infrastruktur AI.

3. Sentimen Pasar Menjelang Pengumuman

Saham perusahaan AI dan teknologi lainnya sudah mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Investor mulai khawatir dengan potensi regulasi yang lebih ketat terhadap teknologi AI. Ini juga berdampak pada sektor lain, seperti perangkat lunak dan .

Tabel berikut merangkum ekspektasi pendapatan Nvidia:

Parameter Perkiraan 2026 Realisasi 2025 Kenaikan (%)
Laba per Saham USD1,52 USD0,89 70,8%
Pendapatan USD65,56 M USD39,33 M 66,7%

Ketidakpastian Makro dan Respons Investor

Gejolak tarif Trump dan ketegangan menjelang laporan Nvidia menciptakan kombinasi yang cukup berbahaya bagi pasar. Investor saat ini berada di posisi sulit: memilih antara menunggu peluang di tengah ketidakpastian atau mengambil langkah defensif.

Banyak analis memperkirakan volatilitas pasar akan meningkat dalam beberapa hari ke depan. Terutama setelah laporan pendapatan Nvidia dirilis. Apalagi, dengan latar belakang kebijakan perdagangan yang belum stabil, investor harus siap dengan berbagai skenario.

1. Strategi Investasi di Tengah Ketegangan

Investor cenderung beralih ke yang dianggap aman. Obligasi dan menjadi pilihan utama. Namun, ada juga yang tetap bertahan di pasar saham, khususnya di sektor yang tidak terlalu sensitif terhadap tarif.

2. Peran Bank Sentral dalam Menstabilkan Pasar

Bank Sentral AS juga tengah memperhatikan situasi ini secara cermat. Kebijakan moneter ke depan bisa saja dipengaruhi oleh perkembangan di pasar saham dan data inflasi yang terkait dengan kenaikan tarif.

Baca Juga:  Emas Tembus USD5.250! Tren Bullish Makin Kuat, Ini Analisisnya

3. Potensi Koreksi Jangka Pendek

Banyak pakar memperkirakan akan terjadi koreksi jangka pendek di pasar saham. Terutama jika laporan Nvidia tidak memenuhi ekspektasi atau jika ketegangan tarif semakin memanas.

Disclaimer

Data dan perkiraan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan pemerintah, kondisi pasar, serta laporan keuangan perusahaan. Harap selalu merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Kampus Kopi Banyuanyar

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.