Rupiah kembali menunjukkan performa positif di akhir pekan perdagangan Februari 2026. Mata uang lokal ini menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD), mencatatkan peningkatan sebesar 86 poin ke level Rp16.802 per USD berdasarkan data Bloomberg. Penguatan ini terjadi seiring dengan melemahnya dolar AS akibat rilis data ekonomi makro yang kurang mendukung dan sentimen pasar global yang berfluktuasi.
Meski begitu, data dari sumber lain seperti Yahoo Finance mencatat rupiah berada sedikit lebih kuat di posisi Rp16.790 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jisdor menunjukkan angka Rp16.818 per USD. Meskipun terdapat perbedaan kecil antar sumber, keseluruhan data menunjukkan bahwa rupiah berhasil mempertahankan momentum penguatan menjelang akhir perdagangan pekan ini.
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Penguatan rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor eksternal dan internal yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Dari sisi global, data ekonomi Amerika Serikat memberikan dampak langsung terhadap kekuatan dolar. Sementara itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahan dan isu geopolitik yang sedang berkembang.
1. Penurunan PDB AS Kuartal IV-2025
Salah satu faktor utama yang menyokong penguatan rupiah adalah data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2025. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan yang melambat dari 4,4 persen menjadi hanya 1,4 persen secara year-on-year (YoY). Penurunan ini dipicu oleh shutdown pemerintah AS yang berlangsung selama 43 hari, mengganggu aktivitas ekonomi dan mengurangi output kuartal tersebut.
2. Kenaikan Indeks Harga PCE Inti
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, yang menjadi acuan utama The Fed dalam menilai inflasi, naik menjadi 3,0 persen dari sebelumnya 2,8 persen. Meski angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed yang ditetapkan di 2,0 persen, kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Hal ini memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan menunda langkah pemotongan suku bunga, yang pada akhirnya melemahkan dolar.
3. Ancaman Kebijakan Tarif dari Pemerintah AS
Presiden AS Donald Trump kembali mengumumkan rencana penerapan tarif sebesar 10 persen terhadap impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS. Langkah ini diambil setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif sebelumnya yang lebih luas. Kebijakan ini kemudian diperkuat dengan peningkatan tarif menjadi 15 persen, yang merupakan batas maksimal berdasarkan undang-undang yang berlaku.
Dampak Penguatan Rupiah terhadap Ekonomi Domestik
Penguatan rupiah terhadap dolar AS memiliki efek ganda terhadap perekonomian Indonesia. Di satu sisi, rupiah yang kuat bisa menekan laju inflasi dengan membuat impor lebih murah. Di sisi lain, eksportir lokal bisa mengalami tekanan margin karena pendapatan mereka dalam dolar menjadi lebih kecil saat dikonversi ke rupiah.
1. Penghematan Biaya Impor
Sektor-sektor yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri manufaktur dan ritel, bisa merasakan manfaat langsung dari penguatan rupiah. Harga komoditas global seperti minyak mentah, mesin industri, dan komponen elektronik menjadi lebih terjangkau, sehingga bisa menekan biaya produksi.
2. Tekanan pada Eksportir
Sebaliknya, eksportir lokal seperti produsen kelapa sawit, karet, dan elektronik mungkin harus menyesuaikan strategi harga mereka. Karena rupiah menguat, nilai penjualan mereka dalam dolar menjadi lebih kecil saat dikonversi ke rupiah. Ini bisa mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global.
Perbandingan Data Kurs Rupiah terhadap USD
Berikut adalah perbandingan data kurs rupiah terhadap USD dari beberapa sumber terpercaya pada tanggal 23 Februari 2026:
| Sumber Data | Kurs (Rp/USD) | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | 16.802 | +86 | +0,51% |
| Yahoo Finance | 16.790 | +90 | +0,53% |
| Jisdor | 16.818 | +67 | +0,40% |
Catatan: Data dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar dan kebijakan Bank Indonesia.
Strategi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) terus memantau perkembangan nilai tukar untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Dalam beberapa pekan terakhir, BI dikabarkan telah melakukan intervensi pasar untuk mencegah rupiah mengalami volatilitas berlebihan. Intervensi ini dilakukan melalui transaksi di pasar spot dan swap valas.
1. Intervensi Pasar Valas
Melalui mekanisme pasar terbuka, BI menyerap atau menyalurkan dolar AS untuk menjaga keseimbangan likuiditas. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi fluktuasi nilai tukar yang terlalu tajam dan memicu gejolak di pasar keuangan.
2. Koordinasi dengan Pemerintah
BI juga terus menjalin komunikasi erat dengan pemerintah dalam menyusun kebijakan makroprudensial. Sinergi ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas eksternal, terutama di tengah ketidakpastian global.
Proyeksi Kurs Rupiah di Masa Depan
Melihat kondisi saat ini, rupiah diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per USD dalam beberapa pekan mendatang. Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter global, terutama langkah The Fed dalam menentukan suku bunga.
1. Pengaruh Kebijakan The Fed
Jika The Fed memutuskan untuk menunda pemotongan suku bunga, dolar AS bisa kembali menguat. Ini akan menekan rupiah dan mendorong kenaikan harga impor. Sebaliknya, jika The Fed menurunkan suku bunga, rupiah berpotensi menguat lebih lanjut.
2. Sentimen Global dan Geopolitik
Isu geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah atau kebijakan perdagangan proteksionis dari negara maju bisa memicu volatilitas pasar. Investor cenderung mencari safe haven seperti dolar AS, yang bisa memperlemah rupiah secara signifikan.
Disclaimer
Data kurs dan informasi ekonomi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar, kebijakan moneter, serta faktor eksternal lainnya. Pembaca disarankan untuk selalu merujuk pada sumber resmi dan data terkini sebelum membuat keputusan finansial.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












