Pekan lalu jadi saksi dari sedikit penurunan di pasar modal Tanah Air. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan angka Rp14.787 triliun, turun 1,03% dibanding minggu sebelumnya yang berada di kisaran Rp14.941 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa investor tampaknya sedang menahan diri, mungkin karena menunggu isyarat ekonomi yang lebih kuat atau mengantisipasi pergerakan pasar global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut melemah, turun 0,44% ke level 8.235,485. Pekan sebelumnya, IHSG masih bertengger di angka 8.271,767. Meski begitu, bukan berarti aktivitas perdagangan mati total. Justru, volume transaksi dan nilai transaksi harian justru naik, menunjukkan bahwa meski indeks turun, minat terhadap instrumen pasar modal tetap tinggi.
Rata-rata frekuensi transaksi harian sedikit turun menjadi 2,95 juta kali dari 3,06 juta kali. Tapi kalau dilihat dari sisi nilai, transaksi harian justru naik cukup signifikan, yaitu 25,35% menjadi Rp29,52 triliun. Volume transaksi juga naik 8,55% menjadi 51,02 miliar lembar saham. Artinya, meskipun jumlah transaksi sedikit turun, nilai dan volume transaksinya justru meningkat.
Investor asing juga masih aktif bermain, meski dalam posisi jual bersih. Pada Jumat (28/2), investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp694,22 miliar. Kalau dihitung sepanjang tahun 2026, total nilai jual bersih mereka sudah mencapai Rp9,51 triliun. Ini menunjukkan bahwa investor luar masih memandang pasar Tanah Air dengan hati-hati, mungkin karena ketidakpastian global yang masih tinggi.
Pencatatan Obligasi dan Sukuk Ramaikan BEI
Pekan ini juga dimeriahkan dengan delapan pencatatan efek baru di BEI. Enam di antaranya adalah obligasi dan dua sisanya sukuk. Ini menunjukkan bahwa perusahaan masih optimis memanfaatkan pasar modal untuk pendanaan, meskipun kondisi pasar sedikit lesu.
1. Obligasi Indomobil Finance
Pada Rabu (25/2), PT Indomobil Finance Indonesia mencatatkan Obligasi Berkelanjutan VI Tahap II Tahun 2026. Nilai pokoknya mencapai Rp2,5 triliun. Obligasi ini menawarkan tingkat bunga tetap, yang bisa jadi menarik bagi investor yang mencari kepastian pendapatan.
2. Obligasi dan Sukuk Lontar Papyrus
Masih di hari yang sama, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry mencatatkan dua instrumen sekaligus. Obligasi Berkelanjutan IV Tahap II bernilai Rp1,05 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II senilai Rp1,55 triliun. Ini menunjukkan diversifikasi instrumen yang mereka tawarkan untuk menarik berbagai jenis investor.
3. Obligasi Surya Artha Nusantara Finance
Kamis (26/2) menjadi hari aktif lainnya dengan pencatatan Obligasi Berkelanjutan V SANF senilai Rp1,2 triliun. Emiten ini juga menawarkan bunga tetap, yang bisa menjadi daya tarik tersendiri di tengah ketidakpastian pasar.
4. Obligasi Bank Panin
Masih di hari Kamis, PT Bank Pan Indonesia Tbk mencatatkan Obligasi Berkelanjutan IV Tahap IV senilai Rp2,71 triliun. Ini merupakan salah satu emisi obligasi terbesar dalam pekan ini.
5. Obligasi Federal International Finance
Pada Jumat (27/2), Federal International Finance mencatatkan Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III senilai Rp2,5 triliun. Obligasi ini juga menawarkan tingkat bunga tetap, menambah pilihan investasi bagi investor ritel dan institusi.
6. Obligasi dan Sukuk Adira Dinamika Multi Finance
Masih di hari Jumat, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk mencatatkan dua instrumen sekaligus. Obligasi senilai Rp2 triliun dan Sukuk Mudharabah senilai Rp500 miliar. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap optimis memanfaatkan pasar modal sebagai sumber dana.
Rekap Total Emisi Tahun Ini
Sejauh tahun 2026 berjalan, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI mencapai 30 emisi dari 21 emiten dengan nilai total Rp28,71 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa minat terhadap instrumen utang di pasar modal masih tinggi, meskipun IHSG sedikit tertekan.
Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI mencapai 677 emisi dengan nilai outstanding sebesar Rp560,01 triliun dan USD134,01 juta dari 133 emiten. Ini menunjukkan bahwa pasar utang di Tanah Air masih berkembang pesat dan menjadi pilihan utama perusahaan untuk penggalangan dana.
Surat Berharga Negara dan Efek Beragun Aset
Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 186 seri dengan nilai nominal mencapai Rp6.683,44 triliun dan USD352,10 juta. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap aktif menggelontorkan surat berharga untuk membiayai proyek-proyek pembangunan.
Sementara itu, Efek Beragun Aset (EBA) tercatat sebanyak 7 emisi dengan nilai total Rp3,69 triliun. EBA ini biasanya menjadi instrumen yang menarik bagi investor karena memiliki agunan dan tingkat risiko yang relatif rendah.
Disclaimer
Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat sesuai dengan informasi resmi dari Bursa Efek Indonesia per pekan 23-27 Februari 2026. Angka-angka ini bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan makro ekonomi yang berlaku. Investasi di pasar modal memiliki risiko, dan keputusan investasi sebaiknya diambil setelah pertimbangan matang serta konsultasi dengan penasihat keuangan profesional.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












