Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah di akhir perdagangan, Selasa, 24 Februari 2026. Sejak pagi, rupiah sudah menunjukkan tekanan pelemahan, dan pada penutupan hari ini, mata uang Garuda ditutup di level Rp16.829 per USD. Angka ini turun 27 poin atau sekitar 0,16 persen dibanding posisi sebelumnya di Rp16.802.
Perbedaan data pun terlihat dari berbagai sumber. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke Rp16.829, sedangkan Yahoo Finance mencatat di posisi Rp16.820. Sementara itu, kurs referensi Jisdor menunjukkan angka Rp16.830 per USD, naik dari level sebelumnya di Rp16.818. Meski variasi angka terlihat tipis, pergerakan ini cukup mencerminkan dinamika pasar yang tengah merespons sejumlah isu global dan domestik.
Faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah tidak datang begitu saja. Ada sejumlah faktor eksternal dan internal yang berkontribusi terhadap tekanan terhadap mata uang lokal. Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan situasi pasar yang cukup sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
1. Sentimen Global yang Tidak Stabil
Salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai tukar adalah sentimen global. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa pasar tengah memperhatikan perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun ada optimisme dari komentar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik, pasar tetap waspada.
Ketidakpastian geopolitik seperti ini biasanya mendorong investor untuk bermain aman, dan dolar AS sering menjadi pilihan utama. Hal ini secara langsung memberi tekanan pada mata uang-mata uang emerging market seperti rupiah.
2. Kebijakan Tarif Baru dari AS
Langkah Presiden AS, Donald Trump, juga menjadi perhatian. Ia berencana mengenakan tarif 10 persen pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS. Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan skema tarif sebelumnya yang lebih luas.
Kebijakan tarif baru ini menimbulkan kekhawatiran akan memicu eskalasi perdagangan global. Investor pun mulai menahan diri, menunggu kejelasan lebih lanjut. Dolar pun kembali menguat sebagai safe haven.
3. Defisit APBN Januari 2026
Dari dalam negeri, laporan APBN bulan Januari 2026 memberikan dampak tersendiri. Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN sebesar Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21 persen PDB. Meski angka ini masih berada dalam batas wajar, defisit menunjukkan bahwa belanja negara lebih tinggi daripada pendapatan.
Belanja negara per Januari sudah mencapai Rp227,3 triliun, atau sekitar 5,9 persen dari target tahunan sebesar Rp3.842,7 triliun. Meski dianggap masih terkendali, kondisi ini bisa menjadi bahan pertimbangan investor dalam menilai stabilitas ekonomi makro Indonesia.
Perbandingan Data Kurs Hari Ini
Berikut adalah perbandingan data kurs rupiah terhadap USD dari berbagai sumber pada Selasa, 24 Februari 2026:
| Sumber Data | Kurs (Rp per USD) | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | 16.829 | -27 | -0,16% |
| Yahoo Finance | 16.820 | -7 | -0,04% |
| Jisdor | 16.830 | +12 | +0,07% |
Disclaimer: Data di atas bersifat mengambang dan dapat berubah tergantung pada waktu pengambilan data serta sumber yang digunakan.
Prediksi Rupiah di Tengah Ketidakpastian
Sebelumnya, Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari. Ia bahkan sempat memperkirakan bahwa rupiah bisa menguat ke kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800. Namun, prediksi tersebut tak terwujud karena tekanan dari faktor global dan sentimen pasar yang lebih dominan melemahkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa prediksi pasar bisa berubah sangat cepat tergantung pada perkembangan eksternal. Meski demikian, Ibrahim menilai bahwa defisit APBN yang masih terkendali bisa menjadi faktor penyeimbang di tengah ketidakpastian global.
Apa Arti Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi Domestik?
Pelemahan rupiah terhadap dolar bisa membawa dampak ganda. Di satu sisi, hal ini bisa mendorong daya saing ekspor karena harga barang Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional. Namun, di sisi lain, impor menjadi lebih mahal, terutama untuk barang-barang yang bergantung pada dolar seperti bahan bakar dan komponen industri.
Inflasi pun bisa terdorong akibat kenaikan harga impor. Bank Indonesia (BI) biasanya akan mengamati situasi ini secara ketat dan bisa melakukan intervensi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Langkah yang Bisa Diambil Investor
Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah yang fluktuatif membutuhkan strategi yang tepat. Berikut beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:
1. Diversifikasi Portofolio
Menyebar risiko investasi ke berbagai instrumen bisa menjadi cara mengurangi dampak volatilitas mata uang. Misalnya, membagi investasi antara aset rupiah dan aset valas.
2. Waspadai Kebijakan Global
Perubahan kebijakan moneter atau perdagangan dari negara besar seperti AS bisa berdampak langsung pada rupiah. Investor perlu terus memantau perkembangan ini.
3. Evaluasi Kebutuhan Valas
Bagi yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar, seperti cicilan pinjaman valas atau impor barang, bisa mulai mempertimbangkan timing pembayaran agar tidak terkena dampak penguatan dolar yang terlalu tajam.
Kesimpulan
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan situasi global yang penuh ketidakpastian. Pelemahan terhadap dolar dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari ketegangan geopolitik hingga kebijakan perdagangan baru dari AS. Di sisi dalam negeri, defisit APBN yang masih terkendali belum menjadi tekanan besar, namun tetap perlu diwaspadai.
Bagi pelaku ekonomi, baik individu maupun korporasi, memahami dinamika nilai tukar menjadi penting untuk mengambil keputusan yang tepat. Meski rupiah sempat diprediksi menguat, kenyataan menunjukkan bahwa pasar masih didominasi oleh sentimen eksternal yang cenderung melemahkan.
Disclaimer: Data kurs dan kondisi makro ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan global dan kebijakan pemerintah.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












