Multifinance

Mengapa Kebijakan Trump Picu Keresahan Pasar Minyak Global?

Ryando Putra Jameni
×

Mengapa Kebijakan Trump Picu Keresahan Pasar Minyak Global?

Sebarkan artikel ini
Mengapa Kebijakan Trump Picu Keresahan Pasar Minyak Global?

tergelincir pada awal pekan ini. Penyebabnya? Pernyataan Presiden soal kenaikan tarif yang mendadak bikin pasar gelisah. Sentimen negatif langsung terbaca di pasar komoditas, termasuk .

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Trump mengumumkan rencana menaikkan tarif impor sementara dari 10 persen menjadi 15 persen. Langkah itu diambil hanya beberapa hari setelah Mahkamah Agung membatalkan keputusan sebelumnya terkait penerapan tarif darurat. Kebijakan baru ini menciptakan ketidakpastian di tengah optimisme global yang mulai pulih.

Harga Brent turun 45 sen atau sekitar 0,63 persen, mencatatkan level USD71,31 per barel. Sementara minyak mentah (West Texas Intermediate) berada di USD65,98 per barel, turun 50 sen atau 0,75 persen. Penurunan ini menunjukkan bahwa investor mulai waspada terhadap dampak ekonomi dari kebijakan perdagangan yang berubah-ubah.

Kebijakan Tarif Trump dan Dampaknya pada Pasar Minyak

Trump menggunakan undang-undang yang belum pernah digunakan sebelumnya untuk menerapkan tarif 15 persen. Langkah ini memicu reaksi dari berbagai negara yang sebelumnya menjalin perjanjian perdagangan dengan AS. Banyak dari mereka kini mencari kejelasan atau bahkan menyiapkan langkah negosiasi ulang.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Brent Sentuh USD70 per Barel!

Tidak ada presiden sebelumnya yang menggunakan undang-undang ini. Artinya, Trump memasuki teritori hukum yang belum pernah diuji. Selain itu, ia juga membutuhkan persetujuan Kongres untuk memperpanjang tarif ini setelah 150 hari. Ini menambah kompleksitas dan ketidakpastian dari kebijakan yang diambil.

1. Penurunan Harga Minyak Akibat Ketidakpastian Ekonomi

Ketika kebijakan perdagangan berubah, salah satu dampak langsungnya adalah perlambatan . Perlambatan ini berimbas pada permintaan energi global, termasuk minyak.

Minyak sebagai komoditas sensitif terhadap isu geopolitik dan ekonomi langsung merespons perubahan kebijakan besar seperti ini. Investor dan produsen minyak mulai menahan diri dari keputusan besar, menunggu kejelasan lebih lanjut dari pemerintahan AS.

2. Tarif Tinggi Picu Kenaikan Biaya Hidup

Tarif yang tinggi berdampak langsung pada harga barang impor. Ini termasuk bahan bakar dan produk turunannya. Ketika biaya produksi naik, maka harga eceran pun ikut terdorong naik.

Namun, data perdagangan Desember 2025 menunjukkan bahwa tarif tinggi belum mampu mengurangi defisit perdagangan AS secara signifikan. Artinya, dampaknya lebih terasa pada konsumen daripada pada neraca dagang.

3. Reaksi Pasar Global terhadap Kebijakan Trump

Negara-negara mitra dagang AS mulai menyiapkan strategi respons. Beberapa di antaranya mempertimbangkan untuk mengajukan negosiasi ulang. Ada juga yang mulai mengeksplorasi pasar alternatif agar tidak terlalu bergantung pada AS.

Bisnis global juga mulai menghitung ulang risiko mereka. Kebijakan yang tidak stabil membuat perusahaan ragu untuk berinvestasi dalam jangka panjang, terutama di sektor energi yang membutuhkan modal besar.

Penyebab Lain Penurunan Harga Minyak

Selain kebijakan tarif, ada faktor lain yang turut menekan harga minyak. Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran beberapa waktu lalu. Minggu lalu, harga minyak sempat naik lebih dari 5 persen karena isu ini.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Iran-Israel yang Meningkat!

Namun, dengan munculnya kebijakan tarif baru, fokus pasar bergeser. Investor kini lebih memperhitungkan risiko ekonomi jangka pendek daripada ancaman geopolitik jangka pendek.

1. Permintaan Global yang Melambat

Pertumbuhan ekonomi global yang melambat berdampak pada permintaan minyak. Jika ekonomi melambat, maka aktivitas industri dan transportasi juga ikut berkurang.

Ini berarti kebutuhan akan energi fosil seperti minyak juga berkurang. Penurunan permintaan ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak dunia.

2. Produksi Minyak yang Stabil

Sementara itu, produksi minyak global masih berjalan stabil. OPEC dan negara produsen lainnya belum menunjukkan tanda-tanda akan memangkas produksi. Padahal, pemangkasan produksi biasanya dilakukan untuk menjaga harga tetap tinggi.

Kondisi ini menciptakan surplus pasokan di pasar global, yang juga ikut menekan harga minyak.

3. Kebijakan Moneter Bank Sentral

Bank sentral di berbagai negara juga mulai menyesuaikan kebijakan moneter mereka. Banyak yang memilih untuk menahan suku bunga atau bahkan menurunkannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, kebijakan ini juga bisa memicu penurunan nilai mata uang. Jika menguat, maka harga minyak dalam dolar cenderung turun, karena minyak diperdagangkan dalam mata uang tersebut.

Perbandingan Harga Minyak Sebelum dan Sesudah Kebijakan Tarif

Berikut adalah perbandingan harga minyak sebelum dan sesudah pengumuman kenaikan tarif oleh Trump:

Komoditas Harga Sebelum Tarif Harga Setelah Tarif Perubahan (%)
Minyak Brent USD71,76 USD71,31 -0,63%
Minyak AS (WTI) USD66,48 USD65,98 -0,75%

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan perdagangan 23 Februari 2026.

Tips Mengantisipasi Volatilitas Harga Minyak

Bagi pelaku industri yang terkait langsung dengan minyak, volatilitas harga bisa sangat berisiko. Berikut beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan:

Baca Juga:  Mengapa Tarif Trump Bisa Jadi Mimpi Buruk Ekonomi Global di 2027?

1. Diversifikasi Sumber Energi

Mengandalkan satu sumber energi saja bisa berbahaya. Diversifikasi ke energi terbarukan seperti solar, angin, atau listrik bisa menjadi solusi jangka panjang.

2. Gunakan Kontrak Harga Tetap

Perusahaan bisa menggunakan kontrak harga tetap atau hedging untuk mengunci harga minyak dalam jangka waktu tertentu. Ini bisa mengurangi risiko fluktuasi harga.

3. Evaluasi Efisiensi Operasional

Mengurangi ketergantungan pada minyak melalui peningkatan efisiensi operasional bisa menjadi langkah strategis. Misalnya dengan mengganti mesin konvensional menjadi yang lebih hemat energi.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan pemerintahan, kondisi geopolitik global, serta dinamika pasar minyak dunia. Pembaca disarankan untuk selalu merujuk pada sumber resmi dan data terbaru untuk pengambilan keputusan.

Ryando Putra Jameni
Reporter at Kampus Kopi Banyuanyar

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.