Multifinance

Rupiah Tembus Rp17.205, Ini Kata Pemerintah soal Kekuatan Ekonomi Indonesia dibanding ASEAN!

Popy Lestary
×

Rupiah Tembus Rp17.205, Ini Kata Pemerintah soal Kekuatan Ekonomi Indonesia dibanding ASEAN!

Sebarkan artikel ini
Rupiah Tembus Rp17.205, Ini Kata Pemerintah soal Kekuatan Ekonomi Indonesia dibanding ASEAN!

Nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan setelah menyentuh level Rp17.205 per dolar AS pada perdagangan Jumat (24/4). Di tengah gejolak ekonomi global yang belum reda, penguatan ini jadi sinyal bahwa ekonomi dalam negeri masih cukup stabil. Meski begitu, penguatan rupiah ini bukan berarti tanpa tantangan. Banyak faktor global dan lokal yang turut memengaruhi arah pergerakannya.

Pemerintah menyebut bahwa penguatan rupiah saat ini bukan karena adanya pelemahan ekonomi domestik. Justru sebaliknya, ini dianggap sebagai cerminan dari ketahanan yang masih lebih baik dibanding negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.

Penguatan Rupiah Jadi Cerminan Stabilitas Ekonomi

Rupiah menguat sebesar 0,52 persen ke level Rp17.205 per USD. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan dari fluktuasi pasar global belum cukup kuat untuk mengguncang stabilitas mata uang lokal. Penguatan ini terjadi di tengah situasi ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, termasuk ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter berbagai negara besar.

, Yudhi Sadewa, menyebut bahwa rupiah masih lebih kuat dibandingkan sejumlah mata uang negara ASEAN. Ia menilai bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh meski berada di bawah tekanan global.

Baca Juga:  Suntikan Dana Rp200 Triliun untuk Bank Diperpanjang hingga September 2026, Apakah Aman?

1. Fundamental Ekonomi Masih Terjaga

Salah satu alasan utama rupiah bisa tetap kuat adalah karena kondisi fundamental ekonomi dalam negeri masih stabil. Inflasi terkendali, cadangan devisa cukup tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang konsisten menjadi pilar utama yang mendukung kepercayaan pasar terhadap rupiah.

2. Kebijakan Moneter dan Fiskal yang Konsisten

Indonesia dan pemerintah terus menjaga kebijakan moneter dan fiskal agar tetap seimbang. Kebijakan ini membantu menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah volatilitas berlebihan yang bisa merugikan perekonomian.

3. Optimisme Pasar terhadap Prospek Ekonomi

Sentimen positif dari investor juga turut memperkuat rupiah. Target pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius—hingga 6 persen pada 2026—memberi sinyal bahwa Indonesia punya potensi untuk terus tumbuh meski di tengah ketidakpastian global.

Perbandingan Kekuatan Rupiah dengan Negara ASEAN

Berikut adalah perbandingan nilai tukar mata uang beberapa negara ASEAN terhadap dolar AS pada periode yang sama:

Negara Mata Uang Kurs terhadap USD (24/4/2026)
Indonesia Rupiah (IDR) Rp17.205
Malaysia Ringgit (MYR) RM4,75
Thailand Baht (THB) 36,80 THB
Filipina Peso (PHP) ₱57,30
Vietnam Dong (VND) ₫25.300

Dari tabel di atas, terlihat bahwa rupiah berada di posisi yang cukup kompetitif. Meski tidak sekuat dolar Singapura atau ringgit Malaysia, rupiah tetap menunjukkan ketahanan yang baik dibanding negara-negara dengan ekonomi sekelas.

Faktor yang Mendukung Penguatan Rupiah

Tidak ada satu faktor pun yang bisa dianggap sebagai penyebab tunggal penguatan rupiah. Namun, ada beberapa elemen penting yang turut memperkuatnya.

1. Stabilitas Politik dan Keamanan Hukum

Indonesia dianggap memiliki politik yang relatif stabil. Ini memberi kepercayaan tambahan bagi investor untuk terus menanamkan modalnya di sini.

2. Kinerja Ekspor yang Terjaga

Ekspor masih menjadi salah satu pilar utama perekonomian. Meski ada tantangan global, volume ekspor Indonesia tetap menunjukkan tren positif, terutama di sektor kelapa , batu bara, dan elektronik.

Baca Juga:  Bocoran Waktu Cairnya THR ASN dari Purbaya, Simak Yuk!

3. Cadangan Devisa yang Mencukupi

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa nasional berada di atas USD130 miliar. Angka ini cukup untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan memberikan ruang manuver dalam menghadapi gejolak pasar global.

Target Pertumbuhan Ekonomi Jadi Pendorong Optimisme

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 mencapai 5,7 persen. Target tahunan pun ditetapkan di angka 6 persen. Angka ini menunjukkan ambisi pemerintah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

1. Fokus pada Infrastruktur

Salah satu strategi utama adalah pengembangan infrastruktur. Proyek-proyek strategis seperti jalan tol, bandara, dan pelabuhan terus dikembangkan untuk mendukung konektivitas dan efisiensi ekonomi.

2. Peningkatan Investasi di Sektor UMKM

Pemerintah juga terus mendorong pengembangan sebagai tulang punggung ekonomi. Berbagai insentif dan program pelatihan diberikan untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha .

3. Reformasi Regulasi untuk Investasi

Perbaikan regulasi terus dilakukan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Ini termasuk percepatan izin usaha, pengurangan birokrasi, dan peningkatan transparansi.

Risiko yang Masih Mengintai

Meski rupiah menunjukkan performa yang baik, ada beberapa risiko yang masih perlu diwaspadai. Tekanan dari kenaikan suku bunga global, ketegangan perdagangan internasional, dan fluktuasi harga komoditas bisa berdampak pada nilai tukar.

1. Volatilitas Pasar Global

Pergerakan pasar global yang tidak menentu bisa memicu tekanan pada rupiah. Investor cenderung mencari saat situasi tidak stabil, dan ini bisa menyebabkan aliran keluar dari pasar berkembang.

2. Kebijakan Moneter AS

Kebijakan Federal Reserve juga tetap menjadi sorotan. Kenaikan suku bunga AS bisa menarik aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

3. Kondisi Domestik yang Harus Terus Dijaga

Meski ekonomi dalam negeri menunjukkan ketahanan, tetap diperlukan konsistensi dalam menjaga stabilitas makro. Inflasi, defisit anggaran, dan kualitas sektor riil harus terus dikelola dengan baik.

Baca Juga:  Minyak Dunia Melonjak, Menkeu Purbaya Siapkan Langkah Antisipasi Kenaikan BBM Subsidi!

Kesimpulan

Rupiah yang mencatatkan level Rp17.205 per USD adalah cerminan dari ketahanan ekonomi nasional yang masih terjaga. Meski menghadapi tantangan global, penguatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap bisa bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Namun, keberhasilan ini bukan berarti bisa dianggap enteng. Pemerintah dan otoritas moneter harus terus waspada dan menjaga kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi jangka panjang.

Disclaimer: Data kurs dan indikator ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar global dan kebijakan moneter yang berlaku. Informasi di atas disajikan berdasarkan data hingga tanggal 24 April 2026.

Popy Lestary
Reporter at Kampus Kopi Banyuanyar

Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.