Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam pelestarian ekosistem mangrove. Dalam kurun waktu antara tahun 1980 hingga 2025, sekitar 1,3 juta hektare kawasan mangrove telah hilang. Angka itu setara dengan 31 persen dari luas total mangrove nasional. Penyebabnya beragam, mulai dari alih fungsi lahan hingga abrasi pantai yang semakin parah.
Sebagai respons, Bank Mandiri turut ambil bagian dalam upaya pemulihan ekosistem karbon biru ini. Salah satu langkah nyatanya adalah melalui fitur Livin’ Planet di aplikasi Livin’ by Mandiri. Fitur ini memungkinkan nasabah untuk mengonversi jejak karbon mereka menjadi kontribusi nyata berupa penanaman pohon. Serapan emisi dari pohon-pohon tersebut dihitung berdasarkan standar dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
Fitur Livin’ Planet: Kontribusi Karbon Jadi Aksi Nyata
Livin’ Planet bukan sekadar fitur biasa. Ini adalah wujud komitmen Bank Mandiri dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Setiap aktivitas nasabah yang berdampak pada emisi karbon bisa diubah menjadi kontribusi penanaman pohon. Proses ini transparan dan dihitung secara ilmiah.
-
Pilih aktivitas ramah lingkungan
Nasabah cukup melakukan aktivitas yang ramah lingkungan, seperti pembayaran digital atau penggunaan fitur cashback. -
Jejak karbon akan terakumulasi
Aplikasi akan menghitung jejak karbon dari aktivitas tersebut dan mengonversinya menjadi kontribusi penanaman pohon. -
Kontribusi dihitung secara real-time
Setiap kontribusi langsung tercatat dan nilai serapannya dihitung berdasarkan standar IPCC.
Fitur ini memberikan pengalaman baru bagi nasabah. Mereka tidak hanya menjalankan transaksi, tapi juga berkontribusi langsung pada pelestarian lingkungan. Hingga 22 Juli 2026, kontribusi nasabah melalui Livin’ Planet telah mencapai 2.697 batang pohon, dengan total serapan emisi sebesar 64,29 ton CO2e.
Fokus pada Mangrove: Penyerap Karbon yang Efektif
Mangrove menjadi fokus utama dalam program ini. Dari total kontribusi, sekitar 2.309 batang pohon mangrove telah ditanam. Nilai serapan emisinya mencapai 40,26 ton CO2e, atau sekitar 63 persen dari total serapan program.
- Bibit bakau merah menjadi pilihan utama karena ketahanannya terhadap abrasi.
- Efektivitas serapan karbon dari mangrove juga lebih tinggi dibandingkan pohon darat.
Penanaman mangrove ini setara dengan:
- Emisi dari perjalanan mobil sejauh lebih dari 244.000 kilometer.
- Konsumsi listrik rumah tangga sebesar 73.897 kWh.
Mengapa Bakau Merah Dipilih?
Bakau merah bukan pilihan sembarangan. Jenis ini memiliki kemampuan unik:
- Tahan terhadap gelombang tinggi dan abrasi pantai.
- Mampu menyaring garam dan bertahan di lingkungan air payau.
- Menyerap karbon hingga 4x lebih banyak dibandingkan hutan tropis biasa.
Selain itu, mangrove juga memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Mereka menjadi habitat alami bagi berbagai spesies ikan dan hewan laut, serta membuka peluang usaha berbasis ekowisata.
Pohon Produktif: Solusi Lingkungan dan Ekonomi
Selain mangrove, program ini juga melibatkan penanaman pohon produktif seperti alpukat dan aren. Sebanyak 387 batang pohon telah ditanam, dengan serapan emisi sebesar 24,02 ton CO2e.
Pohon-pohon ini dipilih karena:
- Memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan melalui hasil panen.
- Menyerap karbon secara efektif.
- Mendukung kemandirian masyarakat lokal.
Alpukat dan aren bukan hanya penyerap karbon. Mereka juga sumber penghasilan bagi petani lokal. Dengan menanam pohon produktif, program ini menciptakan dampak ganda: lingkungan dan ekonomi.
Perlindungan Mangrove Menuju Net Sink 2030
Pelestarian mangrove menjadi salah satu elemen penting dalam pencapaian target Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Target ini menuntut agar luas hutan dan lahan gambut mampu menyerap lebih banyak karbon daripada yang dihasilkan.
Untuk mencapai hal itu, tidak cukup hanya dengan menanam. Yang lebih penting adalah:
-
Pemantauan jangka panjang
Setiap bibit yang ditanam dipantau bersama mitra konservasi. -
Pelaporan berkala
Perkembangan pohon dilaporkan kepada nasabah untuk transparansi. -
Pengelolaan berkelanjutan
Program tidak berhenti saat penanaman, tapi terus berlanjut hingga masa depan.
Dengan pendekatan ini, kontribusi tidak hanya terasa hari ini, tapi juga untuk generasi mendatang.
Komitmen Lebih Luas Menuju Keberlanjutan
Langkah Bank Mandiri lewat Livin’ Planet adalah bagian dari komitmen lebih luas dalam isu keberlanjutan. Program ini tidak hanya soal penanaman pohon, tapi juga tentang menciptakan kesadaran akan pentingnya ekosistem karbon biru.
Bank Mandiri terus berupaya mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dalam layanan dan produknya. Dengan begitu, setiap transaksi bisa menjadi bagian dari solusi lingkungan.
Data dan Statistik Kontribusi Nasabah
Berikut adalah rincian kontribusi nasabah melalui Livin’ Planet hingga 22 Juli 2026:
| Jenis Pohon | Jumlah Batang | Serapan CO2e (ton) | Persentase Kontribusi |
|---|---|---|---|
| Mangrove | 2.309 | 40,26 | 63% |
| Alpukat & Aren | 387 | 24,02 | 37% |
| Total | 2.697 | 64,29 | 100% |
Setara dengan:
- Emisi dari perjalanan mobil sejauh 244.000 km.
- Konsumsi listrik rumah tangga sebesar 73.897 kWh.
Disclaimer
Data yang disajikan bersifat akumulatif hingga 22 Juli 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kontribusi nasabah serta hasil pemantauan lapangan. Nilai serapan emisi bersifat estimasi berdasarkan metodologi IPCC dan mungkin berbeda dengan hasil aktual di lapangan.
Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Bank Mandiri dalam mendukung transisi ke ekonomi hijau dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat.
Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.












