Multifinance

Mengapa Batas Belanja Non-Prioritas Harus Dibatasi 10–20 Persen dari Gaji Anda? Simak Penjelasannya!

Popy Lestary
×

Mengapa Batas Belanja Non-Prioritas Harus Dibatasi 10–20 Persen dari Gaji Anda? Simak Penjelasannya!

Sebarkan artikel ini
Mengapa Batas Belanja Non-Prioritas Harus Dibatasi 10–20 Persen dari Gaji Anda? Simak Penjelasannya!

Belanja memang menyenangkan. Apalagi saat menemukan barang impian dengan harga yang lebih murah dari ekspektasi. Tapi di balik kepuasan sesaat itu, sering kali tersembunyi risiko pengeluaran yang membengkak tanpa sadar. Banyak orang akhirnya merasa uang cepat habis, padahal belum tentu semua yang dibeli benar-benar dibutuhkan.

Padahal, aturan dasar dalam mengelola adalah memprioritaskan kebutuhan penting terlebih dahulu. Setelah gaji masuk, sebagian dialokasikan untuk kebutuhan pokok, tabungan, cicilan, dan investasi. Selebihnya baru boleh digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif atau non-prioritas. Idealnya, bagian ini hanya sekitar 10 hingga 20 persen dari total penghasilan.

Kenapa Harus Ada Batas untuk Belanja Non-Prioritas?

Ada banyak alasan mengapa penting menetapkan batas pengeluaran untuk . Salah satunya adalah agar tidak mengganggu alokasi dana untuk tujuan keuangan jangka panjang. Misalnya, jika seseorang terlalu sering membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mendesak, maka dana pensiun, dana pendidikan anak, atau investasi bisa tertunda.

Selain itu, belanja impulsif sering kali dipicu oleh faktor eksternal seperti iklan, tren, atau tawaran menarik seperti diskon besar-besaran. Padahal, diskon bukan berarti barang tersebut harus dimiliki. Terkadang, godaan ini malah membuat seseorang terjebak dalam konsumtif yang sulit dihentikan.

1. Hindari Gaya Hidup Konsumtif

Gaya hidup konsumtif adalah pola di mana seseorang cenderung membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Biasanya, ini dilakukan demi mengejar status sosial atau sekadar mengikuti tren. Padahal, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari stres hingga penumpukan utang.

2. Jaga Stabilitas Keuangan Jangka Panjang

Dengan membatasi pengeluaran untuk belanja non-prioritas, seseorang bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi darurat. pun bisa terus ditumbuhkan tanpa tergerus oleh pengeluaran tak terduga.

3. Fokus pada Tujuan Finansial Pribadi

Ketika pengeluaran sudah terstruktur, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa setiap rupiah yang keluar mendukung tujuan keuangan. Baik itu menabung untuk liburan, membeli rumah, maupun pensiun lebih awal.

Strategi Bijak Saat Belanja Barang Non-Essential

Membatasi anggaran untuk belanja non-prioritas bukan berarti harus berhenti total. Tapi, ada cara-cara cerdas agar tetap bisa menikmati belanja tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.

1. Buat Daftar Prioritas Belanja Bulanan

Langkah awal yang efektif adalah membuat daftar apa saja yang benar-benar ingin dibeli dalam sebulan. Dengan begitu, pengeluaran bisa dikontrol dan tidak melonjak begitu saja karena godaan sesaat.

2. Gunakan Metode Delayed Gratification

Jika menemukan barang yang menarik, jangan langsung membelinya. Tunggu beberapa hari, misalnya 24 jam sampai satu minggu. Selama waktu tunggu itu, pikirkan ulang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya dorongan emosi sesaat.

3. Hitung Biaya Total Kepemilikan

Harga awal barang kadang terlihat murah. Tapi, belum tentu itu yang sebenarnya. Ada biaya tambahan seperti perawatan, aksesori, bahkan biaya penyimpanan. Semua ini perlu dihitung agar tidak terkejut di kemudian hari.

Perbandingan Pengeluaran Ideal Tiap Kategori

Untuk lebih jelasnya, berikut contoh pembagian pengeluaran bulanan yang direkomendasikan:

Kategori Persentase dari Penghasilan
Kebutuhan Pokok (makanan, transportasi, listrik, dll.) 50%
Tabungan & Investasi 20%
Cicilan Utang (, kendaraan, dll.) 10%
Belanja Non-Prioritas 10–20%
Dana Darurat 5–10%

Catatan: Angka ini bisa disesuaikan tergantung kondisi pribadi dan tujuan finansial masing-masing.

Tips Tambahan agar Tak Terjerumus Belanja Impulsif

Selain membatasi jumlah pengeluaran, ada beberapa trik psikologis yang bisa membantu menjaga kontrol saat belanja.

Gunakan Uang Tunai untuk Belanja Non-Prioritas

Studi menunjukkan bahwa berbelanja dengan membuat orang lebih sadar akan pengeluaran. Saat uang fisik dikeluarkan dari dompet, otak secara alami lebih merasakan ‘rasa sakit’ atas pengeluaran tersebut.

Matikan Notifikasi Promosi dari E-Commerce

Notifikasi bisa memancing hasrat beli secara . Dengan mematikannya, risiko tergodam penawaran mendadak pun berkurang.

Gunakan Aplikasi Pengingat Budget

Aplikasi keuangan bisa membantu melacak pengeluaran harian. Dengan fitur notifikasi dan laporan bulanan, pengguna bisa lebih mudah memantau apakah belanja sudah melewati batas atau belum.

Kesimpulan

Belanja non-prioritas bukan musuh. Tapi, jika tidak dikontrol, bisa menjadi penghalang menuju kebebasan finansial. Dengan menetapkan batas 10 hingga 20 persen dari penghasilan, seseorang tetap bisa menikmati kepuasan belanja tanpa khawatir mengorbankan masa depan.

Tentu saja, angka ini bukan patokan mutlak. Setiap individu punya kondisi berbeda. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: kendalikan pengeluaran agar tidak mengganggu tujuan keuangan yang lebih besar.

Disclaimer: Data dan rekomendasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi serta kebijakan keuangan pribadi.

Popy Lestary
Reporter at Kampus Kopi Banyuanyar

Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.