Multifinance

Mengapa Tarif Trump Bisa Jadi Mimpi Buruk Ekonomi Global di 2027?

Bintang Fatih Wibawa
×

Mengapa Tarif Trump Bisa Jadi Mimpi Buruk Ekonomi Global di 2027?

Sebarkan artikel ini
Mengapa Tarif Trump Bisa Jadi Mimpi Buruk Ekonomi Global di 2027?

Ketegangan global diperkirakan akan kembali memanas menjelang akhir dekade ini. Research memperkirakan bahwa risiko eskalasi tarif dari pemerintahan , khususnya di bawah Presiden Donald Trump, bakal meningkat lagi pada tahun 2027. Meski begitu, hingga 2026, situasi ini masih terkendali karena faktor politik dan hukum yang membatasi langkah-langkah agresif dalam jangka pendek.

Salah satu alasan utama adalah putusan yang baru-baru ini membatasi penggunaan kekuasaan darurat untuk memberlakukan tarif secara luas. Putusan ini memperkuat peran Kongres dalam pengambilan keputusan perdagangan, sehingga memaksa pemerintah untuk tidak langsung menaikkan tarif secara sepihak. Tekanan dari pemilihan umum paruh waktu juga menjadi faktor yang membuat langkah besar dalam belum bisa dilakukan.

Dinamika Tarif dan Kebijakan Perdagangan di Masa Depan

Perubahan dalam kebijakan perdagangan tidak serta merta terjadi begitu saja. Ada banyak pertimbangan politik, hukum, dan yang harus diperhitungkan. Tahun 2026 menjadi titik penting karena berbagai pembatasan mulai terlihat. Namun menjelang 2027, situasi bisa berubah, terutama jika Trump kembali memiliki kekuatan penuh untuk mengeksekusi agenda perdagangan proteksionisnya.

Baca Juga:  Mengapa Kebijakan Trump Picu Keresahan Pasar Minyak Global?

1. Batasan Hukum yang Menghambat Kenaikan Tarif

Salah satu faktor utama yang menahan kenaikan tarif adalah putusan Mahkamah Agung AS. Putusan ini membatasi kemampuan eksekutif untuk menggunakan kekuatan darurat dalam menetapkan kebijakan tarif. Artinya, setiap peningkatan tarif harus melalui proses legislatif yang lebih ketat dan membutuhkan persetujuan dari Kongres.

2. Peran Kongres dalam Pengawasan Kebijakan Perdagangan

Kongres tidak hanya menjadi penyetuju, tetapi juga pengawas. Dengan adanya kontrol ini, langkah-langkah ekstrem dalam kebijakan perdagangan bisa dicegah. Ini menciptakan keseimbangan kekuasaan, tapi juga memperlambat proses implementasi tarif baru.

3. Strategi Jangka Pendek Menuju Pemilu

Menjelang pemilihan umum paruh waktu, pemerintah cenderung menghindari langkah yang bisa memicu ketidakstabilan ekonomi. Tarif yang tinggi bisa memicu inflasi dan menekan . Oleh karena itu, strategi jangka pendek lebih mengarah pada tarif sementara atau kebijakan yang tidak terlalu mengguncang pasar.

4. Penggunaan Tarif Sementara Berdasarkan UU yang Ada

BCA Research menyebut bahwa alat yang lebih terbatas akan digunakan, seperti tarif sementara berdasarkan undang-undang perdagangan yang sudah ada. Ini memungkinkan peningkatan tarif dalam skala kecil tanpa harus melalui proses legislatif yang rumit.

Fokus Pasar Bergeser ke Risiko Geopolitik

Meski ketegangan perdagangan masih menjadi perhatian, risiko dari ketegangan dengan Iran justru dinilai lebih dominan dalam jangka pendek. BCA memperkirakan ada sekitar 38 persen kemungkinan terjadinya guncangan minyak besar yang bisa mengguncang pasar secara global.

1. Ketegangan AS-Iran dan Dampaknya pada Pasar Energi

Pembicaraan nuklir yang mandek dan peningkatan kekuatan militer AS di Teluk membuat ketegangan semakin memanas. Presiden Trump bahkan memperingatkan kemungkinan serangan terbatas. Pasar minyak langsung merespons dengan kenaikan , menunjukkan bahwa investor mulai memperhitungkan risiko ini.

Baca Juga:  Kemenperin Waspadai Ancaman Konflik Timur Tengah, Siapkan Strategi Kuat Lindungi Industri Nasional!

2. Volatilitas Minyak Jadi Fokus Utama Investor

Dalam skenario ini, tarif perdagangan menjadi isu sekunder. Investor lebih fokus pada potensi gangguan pasokan minyak yang bisa memicu lonjakan inflasi dan mengganggu rantai pasok global. Ini menjadikan pasar energi sebagai area yang paling sensitif saat ini.

Perlindungan Aset AS di Tengah Ketidakpastian Global

Meskipun tarif bisa meningkat lagi di masa depan, investor saat ini lebih memilih aset yang dianggap aman. BCA menyebut bahwa pengawasan dari lembaga-lembaga seperti pengadilan, kongres, dan Federal Reserve bisa mengurangi ketidakpastian kebijakan.

1. Obligasi Pemerintah dan Dolar sebagai Aset ‘Safe Haven’

Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung beralih ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar. Ini karena sistem pengawasan yang lebih kuat memberikan keyakinan bahwa kebijakan ekonomi tidak akan berubah secara drastis dalam waktu dekat.

2. Fokus pada Kondisi Makro dan Ekuitas AS

BCA menyarankan investor untuk tetap memperhatikan kondisi makroekonomi global, terutama dinamika pasar ekuitas dan energi di AS. Keduanya menjadi indikator penting untuk memprediksi arah kebijakan dan dampaknya terhadap investasi.

Perbandingan Risiko Tarif vs Risiko Energi

Faktor Risiko Tarif Risiko Energi
Waktu Muncul Menjelang 2027 Saat ini hingga 2026
Sumber Ketidakpastian Kebijakan pemerintah AS Ketegangan geopolitik (AS-Iran)
Dampak pada Inflasi Menengah Tinggi
Fokus Investor Sekunder Utama
Potensi Gangguan Pasar Terbatas Luas

Kesimpulan

Tahun 2026 menjadi periode transisi di mana ketegangan perdagangan masih terkendali. Namun menjelang 2027, risiko eskalasi tarif kembali meningkat, terutama jika Trump kembali memiliki ruang manuver politik yang lebih besar. Meski begitu, fokus pasar saat ini lebih tertuju pada risiko geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan ketegangan AS-Iran dan potensi gangguan pasokan minyak.

Baca Juga:  Apindo Dukung Perjanjian RI-AS, Yakin Tingkatkan Kepastian Pasar dan Daya Saing Ekspor Indonesia!

Investor perlu waspada terhadap dinamika ini. Aset-aset aman seperti dolar dan obligasi pemerintah AS masih menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian. Namun, perubahan kebijakan di masa depan bisa mengubah peta investasi secara signifikan.

Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan laporan BCA Research per Februari 2026. Kondisi politik dan ekonomi global bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Bintang Fatih Wibawa
Reporter at Kampus Kopi Banyuanyar

Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.