Indonesia sedang menarik perhatian besar dari investor global, terutama dari sektor otomotif dan energi. Bukan hanya karena potensi sumber daya alamnya, tapi juga karena ekosistem yang sedang dibangun untuk mendukung industri kendaraan listrik (EV). Salah satu langkah strategis terbaru adalah masuknya perusahaan asing ke pasar modal Indonesia melalui akuisisi. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), yang sebelumnya bergerak di bidang tinta dan alat tulis, kini menjadi sorotan karena rencana perubahan kepemilikan saham yang signifikan.
Perusahaan asal Hong Kong, Dragonmine Mining, berencana mengambil alih 80% saham BLUE. Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, tapi bagian dari strategi masuknya pemain global ke rantai pasok baterai kendaraan listrik. Dragonmine adalah anak perusahaan dari Huayou Hongkong Limited, yang merupakan unit investasi dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd, salah satu raksasa mineral baterai asal Tiongkok.
Rencana Akuisisi BLUE dan Peran Dragonmine
-
Pengumuman Resmi Akuisisi
Pada 19 Februari 2026, BLUE mengumumkan penandatanganan Conditional Shares Purchase Agreement (CSPA) dengan Dragonmine Mining. Dalam kesepakatan ini, Dragonmine akan membeli 334,4 juta saham BLUE, setara dengan 80% dari total saham yang telah diterbitkan dan disetor penuh.
-
Struktur Kepemilikan Baru
Setelah akuisisi selesai, Dragonmine akan menjadi pemegang saham mayoritas BLUE. Ini membuka kemungkinan transformasi bisnis perusahaan dari sektor konvensional ke industri baterai kendaraan listrik.
-
Latar Belakang Dragonmine dan Huayou
Dragonmine adalah perusahaan swasta yang berbasis di Hong Kong dan merupakan bagian dari Huayou Group. Huayou sendiri memiliki portofolio bisnis yang luas di sektor pertambangan dan mineral, termasuk investasi di sektor nikel dan baterai di Indonesia.
Potensi Transformasi Bisnis BLUE
-
Perubahan Model Bisnis
Menurut Ezaridho Ibnutama, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, pergantian pengendali ini bisa menjadi pintu masuk bagi BLUE untuk mengadopsi model bisnis baru yang lebih sejalan dengan industri EV. Ini juga bisa menjadi bentuk backdoor listing bagi perusahaan asing yang ingin masuk pasar modal Indonesia.
-
Langkah Strategis Menuju Industri Baterai
Huayou dikenal memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai industri baterai lithium-ion. Dengan akuisisi BLUE, perusahaan ini semakin memperkuat kehadirannya di sektor hilirisasi nikel, salah satu komponen utama baterai EV.
-
Proyek Strategis di Indonesia
Huayou sudah terlibat dalam beberapa proyek strategis di Indonesia, seperti Proyek Titan yang dikembangkan bersama Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Masuknya mereka ke BLUE bisa menjadi bagian dari ekspansi lebih lanjut di sektor ini.
Dinamika Pasar Modal dan Pergerakan Saham BLUE
-
Respons Pasar terhadap Akuisisi
Saham BLUE langsung merespons positif terhadap pengumuman akuisisi. Dalam satu tahun terakhir, harga saham BLUE melonjak hampir 1.900%. Namun, setelah pengumuman CSPA, sempat terjadi koreksi akibat volatilitas pasar.
-
Perbandingan Saham Sebelum dan Sesudah Pengumuman
Periode Kenaikan Saham 1 Tahun Terakhir +1.900% Year to Date (2026) +117% Catatan: Data berdasarkan harga saham per 19 Februari 2026. Harga saham dapat berubah sewaktu-waktu.
-
Efisiensi Akuisisi vs IPO
Bagi perusahaan global, mengakuisisi emiten lokal seperti BLUE jauh lebih efisien dibandingkan melakukan IPO baru. Ini memungkinkan mereka untuk langsung mengakses dana dari investor domestik melalui rights issue.
Strategi Masuk Pasar Modal Indonesia oleh Perusahaan Asing
-
Backdoor Listing sebagai Alternatif
Dengan regulasi baru yang mewajibkan free float lebih tinggi, banyak perusahaan mengalami hambatan dalam IPO. Akuisisi emiten kecil seperti BLUE menjadi jalan alternatif untuk masuk pasar modal secara lebih cepat.
-
Penguatan Profil ESG
Keberadaan perusahaan asing di pasar publik juga meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi. Ini sekaligus memperkuat profil ESG (Environmental, Social, Governance), yang semakin penting bagi investor global.
-
Pemanfaatan Rights Issue untuk Pendanaan
Setelah listing, perusahaan bisa melakukan rights issue untuk mendanai proyek pengembangan tambang, smelter, atau pabrik baterai. Ini memberi fleksibilitas dalam penggunaan dana dan pengembangan bisnis.
Dampak Lebih Luas pada Industri EV di Indonesia
-
Penguatan Rantai Pasok Baterai
Masuknya pemain global seperti Huayou ke pasar modal Indonesia menunjukkan bahwa negara ini dianggap strategis untuk pengembangan industri EV. Ini bisa mempercepat pembangunan pabrik baterai dan komponen pendukungnya.
-
Peningkatan Investasi Asing
Akuisisi ini juga bisa menjadi magnet bagi investor lain untuk masuk ke sektor yang sama. Apalagi Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, salah satu bahan utama baterai lithium-ion.
-
Dorongan untuk Regulasi yang Lebih Terbuka
Semakin banyaknya minat investor global bisa mendorong pemerintah untuk terus menyempurnakan regulasi pasar modal agar lebih ramah investasi, khususnya untuk sektor strategis seperti EV.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saham BLUE dan pergerakan harga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor makro dan mikro ekonomi. Keputusan investasi sebaiknya selalu didasarkan pada analisis mendalam dan pertimbangan risiko yang matang.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












